Labels
- aRsiTekTuR (1)
- CaRoK (2)
- KuLiNeR MaDuRa (1)
- meNgeNaL MaDuRa LeWaT LaGu (2)
- PeSoNa aLaM MaDuRa (4)
- SeNi dan BuDaya (4)
Mengenai Saya
Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.
Tampilkan postingan dengan label SeNi dan BuDaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SeNi dan BuDaya. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 Desember 2010
Keraton Potre Koneng
Keraton Sumenep di Jawa Timur dikenal dengan sebutan “Potre Koneng” (Putri Kuning). Julukan ini muncul karena di bekas Keraton Sumenep pernah hidup seorang permaisuri keraton, Ratu Ayu Tirto Negoro, yang memiliki kulit kuning bersih yang berasal dari negeri Cina. Untuk menghormati sang permaisuri, atap Keraton Sumenep diberi warna kuning cerah.
Bangunan Keraton Sumenep didirikan pada paruh kedua abad ke-18 atas prakarsa Raja Sumenep, yaitu Penembahan Sumolo atau Tumenggung Arya Nata Kusuma. Keraton ini diarsiteki oleh seorang China bernama Liaw Piau Ngo. Melalui tangan Liaw Piau Ngo inilah lahir sebuah bangunan keraton yang unik, yang memadukan gaya arsitektur Eropa, China, dan Jawa. Keraton Sumenep terletak di pusat kota (dekat alun-alun) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Dengan mengunjungi keraton ini, wisatawan dapat melihat langsung hasil akuturasi budaya Jawa, Eropa, dan Cina yang membentuk bangunan Keraton Sumenep. Pada bangunan Keraton Sumenep, pengunjung dapat melihat nuansa keraton Jawa dengan pilar-pilar dan lekuk ornamennya yang bergaya Eropa serta rangkaian atap yang menyerupai kelenteng Cina.
Secara umum komposisi bangunan pada Keraton Sumenep tidak berbeda dengan keraton-keraton di Jawa, misalnya sama-sama memiliki pendopo yang cukup luas untuk menerima tamu, ruang peristirahatan raja, serta lokasi pemandian untuk permaisuri dan putri-putri raja.
Sebelum memasuki keraton, pengunjung akan disambut gapura dengan nama “Labang Mesem”. Dalam bahasa Indonesia “labang” berarti pintu, dan “mesem” adalah senyum. Gapura ini melambangkan keramahan keraton terhadap para tamu yang berkunjung. Di sisi kanan keraton, terdapat “Kantor Koneng”, yaitu ruang kerja raja Sumenep, yang sekarang difungsikan sebagai museum. Ruangan ini berisi koleksi peralatan rumah tangga keraton. Di luar keraton, wisatawan juga dapat mengunjungi Masjid Jamik Sumenep yang usianya tak jauh berbeda dengan usia Keraton Sumenep.
Untuk menuju kota Kabupaten Sumenep wisatawan harus menyeberangi pantai utara Jawa melewati Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura dengan memanfaatkan jasa kapal feri. Lama perjalanan + setengah jam dengan biaya sekitar Rp. 2.000 (Februari 2008). Pelabuhan ini terletak di ujung barat pulau Madura, sedangkan letak Keraton Sumenep berada di ujung timur pulau yang berjarak + 90 km dari Pelabuhan Kamal. Perjalanan dari Pelabuhan Kamal ke kota Sumenep dapat ditempuh dengan bus maupun minibus dengan lama perjalanan sekitar 3 jam.
Wisatawan yang berkunjung ke Keraton Sumenep dapat memperoleh keterangan tambahan mengenai sejarah dan perkembangan keraton dari pengelola keraton yang bertindak sebagai guide. Jika memerlukan menginap, di sekitar museum terdapat penginapan berupa hotel.
Sangat mudah mencapai Keraton Sumenep, karena letaknya sekitar 200 meter arah Timur dari Taman Bunga di pusat kota Sumenep. Demikian halnya untuk sampai ke pusat kota kabupaten paling timur di Pulau Madura ini. Bila berangkat dari Surabaya, pusat propinsi Jatim, dengan kendaraan pribadi butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan.Nama Sumenep, salah satu versinya berasal dari kata Songenep. Dalam bahasa Madura, Songenep merupakan gabungan dari kata Lesso dan Nginep. Dalam Bahasa Indonesia, Lesso berarti capek atau lelah, dan nginep berarti bermalam. Jadi, setelah kita melakukan perjalanan menuju kita ini dianjurkan bermalam. Setidaknya demikian agar keesokan harinya Anda bisa menikmati kekayaan dan keindahan potensi wisata di daerah ini dengan lebih leluasa. Obyek-obyek seperti Pantai Slopeng, Pantai Lombang, makam raja Asta Tinggi, dan yang lainnya bisa menjadi jujukan wisata Anda
Senin, 27 Desember 2010
Musik Daul
Bagi masyarakat madura musik daul sudah tidak asing lagi. Musik ini merupakan inovasi musik tong-tong. Namun, 5 tahun belakangan ini musik daul mengalami perkembangan yang sangat pesat di 3 kabupaten Madura. Yaitu, Sumenep, Pamekasan dan Sampang. Sampai kini musik daul menjadi salah satu bagian dari khasanah kekayaan seni dan budaya masyarakat Madura.
![]() |
| http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2008/05/05/2774378p.jpg |
Sejarah lahirnya musik ul-daul hingga kini belum diketahui. Namun, dari berbagai jenis musik daul yang ada, musik tradisional daul di wilayah Kabupaten Pamekasan memiliki ciri khas tersendiri. Sebab keberadaan musik daul di Pamekasan lebih dipicu karena adanya pemadaman listrik pada sekitar 1990-an lalu.
Pada saat Madura mengalami pemadaman listrik, kelompok musik daul yang berkembang hanya di Pamekasan, sedang di tiga kabupaten lain di Madura tidak ada. Bahkan jenis musik daul yang dikembangkan warga Pamekasan ketika itu dan hingga kini masih berlangsung ialah menggunakan kereta dorong, berbeda dengan jenis musik daul pada umumnya.
![]() |
| http://2.bp.blogspot.com |
Dengan eksisnya keberadaan dan banyak komunitas ul-daul di Madura, menjadi bukti bahwa madura merupakan tanah yang kaya karya seni. kini, musik tersebut menjadi salah satu kesenian yang sering banyak ditampilkan dalam berbagai kegiatan. mulai, selamatan, khitanan, perkawinan, smapai kegiatan-kegiatan lainnya. Tak lain, komunitas ini bertujuan untuk melestarikan budaya tradisional (musik tong-tong) serta memberikan hiburan dan menumbuhkan kecintaan pada Budaya Madura.
Tari Rondhing dan Tari Ghetak.
Di Pamekasan banyak jenis kesenian tradisional yang mulai berkembang. Seperti tari 'pecot, tari 'samper nyecceng' dan tari 'dhanggak', tari rondhing dan tari Ghetak. Tari 'pecot' merupakan salah satu jenis tari yang biasa ditampilkan pada acara pembukaan karapan sapi dan tari 'samper nyecceng' merupakan tari khas Madura yang biasanya ditampilkan pada acara karnaval, sedang tari 'dhanggak' merupakan tari-tarian yang berkembang di kalangan masyarat pesisir. Namun, dari berbagai jenis tari tersebut yang banyak diminati dan secara sosial budaya dinilai cocok dengan kondisi Kabupaten Pamekasan ialah tari 'rondhing' dan tari topeng 'gethak'.
Tari 'rondhing' dan tari topeng 'gethak' merupakan dua jenis tari tradisional peninggalan budaya leluhur warga Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Kedua jenis tarian ini juga dijadikan sebagai kesenian tradisional unggulan di Pamekasan. Disamping itu, kedua jenis tari ini juga sudah mendapatkan hak paten dari Menteri Hukum dan HAM sebagai jenis tari tradisional yang merupakan hasil kreasi warga Pamekasan. Tari rondhing ditarikan oleh lima orang. Pada tarian ini tergambar pola baris-berbaris ibarat sebuah pasukan. Oleh karena itu, tari rondhing juga disebut tari baris.
Rondhing ini kan berasal dari "rot" artinya mundur, dan "kot-konding" artinya bertolak pinggang. Jadi tari rondhing ini memang menggambarkan tarian sebuah pasukan bagaimana saat melakukan baris-berbaris.
Nilai filosofis yanng terkandung dalam kedua jenis tari ini, diangkat dari perjuangan masyarakat kota Pamekasan ketika melawan kompeni pada masa penjajahan Belanda dulu.
Sebagaimana tari 'rondhing', tari topeng 'gethak' juga mengandung nilai filosofis perjuangan warga Pamekasan saat berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dulu.
Namun meski memiliki nilai filosofis serupa, dalam gerakan tari topeng gethak mengandung makna mengumpulkan massa. Berbeda dengan tari rondhing yang bermakna mengerahkan pasukan. Selain itu, jumlah penari juga berbeda. Tari topeng 'gethak' dimainkan oleh satu hingga tiga orang penari, sedang tari rondhing lima orang penari.
![]() |
| www.eastjava.com |
Tari 'rondhing' dan tari topeng 'gethak' merupakan dua jenis tari tradisional peninggalan budaya leluhur warga Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Kedua jenis tarian ini juga dijadikan sebagai kesenian tradisional unggulan di Pamekasan. Disamping itu, kedua jenis tari ini juga sudah mendapatkan hak paten dari Menteri Hukum dan HAM sebagai jenis tari tradisional yang merupakan hasil kreasi warga Pamekasan. Tari rondhing ditarikan oleh lima orang. Pada tarian ini tergambar pola baris-berbaris ibarat sebuah pasukan. Oleh karena itu, tari rondhing juga disebut tari baris.
![]() |
| www.google.com |
Rondhing ini kan berasal dari "rot" artinya mundur, dan "kot-konding" artinya bertolak pinggang. Jadi tari rondhing ini memang menggambarkan tarian sebuah pasukan bagaimana saat melakukan baris-berbaris.
Nilai filosofis yanng terkandung dalam kedua jenis tari ini, diangkat dari perjuangan masyarakat kota Pamekasan ketika melawan kompeni pada masa penjajahan Belanda dulu.
Sebagaimana tari 'rondhing', tari topeng 'gethak' juga mengandung nilai filosofis perjuangan warga Pamekasan saat berupaya memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dulu.
Namun meski memiliki nilai filosofis serupa, dalam gerakan tari topeng gethak mengandung makna mengumpulkan massa. Berbeda dengan tari rondhing yang bermakna mengerahkan pasukan. Selain itu, jumlah penari juga berbeda. Tari topeng 'gethak' dimainkan oleh satu hingga tiga orang penari, sedang tari rondhing lima orang penari.
Senin, 20 Desember 2010
Karapan Sapi
Karapan Sapi (bulls race) sangat ‘kental’ Madura. Karapan sapi sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut perlombaan pacuan/balap sapi. Pada perlombaan ini, sapi menarik kereta kayu yang ditunggangi oleh joki untuk mengendalikan sepasang sapi tersebut. Jarak pacuan biasanya sekitar 100 meter dengan waktu kurang lebih 10 setik samapai 1 menit. Karapan sapi dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu saja. Yaitu pada bulan agustus dan september. Sebelum dilombakan, sapi-sapi ini diarak mengitari arena pacuan dengan diiringi tabuhan gamelan madura yang disebut musik saronen.
Bukan semua jenis sapi yang bisa ikut serta dalam karapan. Sapi pilihan dengan jenis dan warna Madura. Kriteria khusus, sehat dan kuat serta pejantan yang cukup tingginya. Pilihan bibit sapi karapan, perawatan khusus untuk menjaga bentuk tubuh dan stamina menjelang karapan. Menjaga mental (agar sapi tidak stress) dan fisik sapi menjadi syarat mutlak pra pertandingan
Sebelum masuk ke arena balapan, pasangan sapi muncul dengan penampilan yang khas. Pakaian kebesaran sapi karapan yang mempunyai ciri masing-masing daerah. Sebagai unjuk kreativitas sang pemilik sapi, perlengkapan yang bernilai mahal ini segera dilepas ketika sapi siap beradu. Bebat yang dipasang dikepala sapi ini juga membuat pesan spiritual. Ketika sapi memasuki arena balapan, seluruh hiasan ditubuhnya harus dilepas. Hingga tinggal bebat yang tersisa. Tak ada sapi karapan yang idak mengenakan bebat ini, ia juga membentuk benteng pecaya diri sapi.
Bagi masyarakat Madura, karapan sapi bukan hanya sekedar sebuah pesta rakyat atau tradisi turun temurun yang dirayakan setiap tahun. Tapi, karapan sapi merupakan sebuah kebanggaan yang akan mengangkat derajat dan martabat seseorang.
Belum ada yang tahu persis sejarah asal mula karapan sapi ini. Namun, berdasarkan sumber lisan turun temurun diketahui bahwa karapan sapi pada mulanya dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau sapudi, Sumenep pada abad Ke-13. Tujuan awal karapan sapi adalah untuk membajak sawah dan mengolah tanah persawahan. Ternyata, metode karapan sapi untuk menggemburkan tanah tandus menjadi lahan subur pun berhasil.
Tentu saja masyarakat desa mengikuti jejak pangerannya setelah mengetahui bahwa metode tadi berhasil. Akhirnya tanah di pulau Sapudi yang tadinya gersang, menjadi lahan subur dan bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah.
Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Ketandur mempunyai inisiatif mengajak warga di desanya untuk mengadakan balapan sapi. Areal tanah sawah yang sudah dipanen dimanfaatkan untuk areal balapan sapi. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Ketandur itulah yang hingga kini terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Hanya namanya diganti lebih populer dengan “Kerapan Sapi”.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan Sapi selain sebagai tradisi juga sebagai pesta rakyat yang dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Kerapan sebagai pesta rakyat di Madura mempunyai peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi (kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan), peran magis religius (misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu), bidang seni rupa (ada pada peralatan yang mempunyai hiasan tertentu), bidang seni tari dan seni musik saronen (selalu berubah dan berkembang). (yy/dari berbagai sumber)
Bukan semua jenis sapi yang bisa ikut serta dalam karapan. Sapi pilihan dengan jenis dan warna Madura. Kriteria khusus, sehat dan kuat serta pejantan yang cukup tingginya. Pilihan bibit sapi karapan, perawatan khusus untuk menjaga bentuk tubuh dan stamina menjelang karapan. Menjaga mental (agar sapi tidak stress) dan fisik sapi menjadi syarat mutlak pra pertandingan
Sebelum masuk ke arena balapan, pasangan sapi muncul dengan penampilan yang khas. Pakaian kebesaran sapi karapan yang mempunyai ciri masing-masing daerah. Sebagai unjuk kreativitas sang pemilik sapi, perlengkapan yang bernilai mahal ini segera dilepas ketika sapi siap beradu. Bebat yang dipasang dikepala sapi ini juga membuat pesan spiritual. Ketika sapi memasuki arena balapan, seluruh hiasan ditubuhnya harus dilepas. Hingga tinggal bebat yang tersisa. Tak ada sapi karapan yang idak mengenakan bebat ini, ia juga membentuk benteng pecaya diri sapi.
Bagi masyarakat Madura, karapan sapi bukan hanya sekedar sebuah pesta rakyat atau tradisi turun temurun yang dirayakan setiap tahun. Tapi, karapan sapi merupakan sebuah kebanggaan yang akan mengangkat derajat dan martabat seseorang.
Belum ada yang tahu persis sejarah asal mula karapan sapi ini. Namun, berdasarkan sumber lisan turun temurun diketahui bahwa karapan sapi pada mulanya dipopulerkan oleh Pangeran Katandur yang berasal dari Pulau sapudi, Sumenep pada abad Ke-13. Tujuan awal karapan sapi adalah untuk membajak sawah dan mengolah tanah persawahan. Ternyata, metode karapan sapi untuk menggemburkan tanah tandus menjadi lahan subur pun berhasil.
Tentu saja masyarakat desa mengikuti jejak pangerannya setelah mengetahui bahwa metode tadi berhasil. Akhirnya tanah di pulau Sapudi yang tadinya gersang, menjadi lahan subur dan bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah.
Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Ketandur mempunyai inisiatif mengajak warga di desanya untuk mengadakan balapan sapi. Areal tanah sawah yang sudah dipanen dimanfaatkan untuk areal balapan sapi. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Ketandur itulah yang hingga kini terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Hanya namanya diganti lebih populer dengan “Kerapan Sapi”.
Bagi masyarakat Madura, Kerapan Sapi selain sebagai tradisi juga sebagai pesta rakyat yang dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Kerapan sebagai pesta rakyat di Madura mempunyai peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi (kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan), peran magis religius (misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu), bidang seni rupa (ada pada peralatan yang mempunyai hiasan tertentu), bidang seni tari dan seni musik saronen (selalu berubah dan berkembang). (yy/dari berbagai sumber)
Langganan:
Postingan (Atom)










